Skip to content

Idul Fitri dalam Semangat Islam Sejati

Written by

admin

Lebaran menandai akhir bulan Ramdhan. Ini menandakan akhir bulan puasa (hari pertama bulan Syawal) setiap Muslim memperoleh manfaat kudus dari manfaat Idul Fitri Ramadhan dan semangat pribadi mereka sendiri untuk beberapa yang seperti berhenti curam ke atas yang memuncak dalam mengintip dengan lanskap yang luar biasa. Bagi sebagian orang itu seperti kesempatan untuk melepas lelah setelah kerja yang padat satu bulan.

Be bertentangan dengan itu beberapa benar-benar merasakan peningkatan spiritual sejati dari nilai yang tak terhitung. Ini sebenarnya adalah semangat sejati Idul Fitri yang telah didefinisikan oleh Rasulullah SAW. Signifikansinya murni spiritual. Ini adalah hari ketika Muslim bersyukur kepada Allah karena memiliki di sana akan, kekuatan dan daya tahan untuk mengamati puasa untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

white and gold chandelier on brown wooden ceiling
Idul Fitri dalam Semangat Islam Sejati

Festival dimulai dengan penampakan pertama bulan baru. Hari ini dalam kata Muslim, adalah hari bersukacita dan kebahagiaan itu juga hari pengampunan dan membuat resolusi. Namun bersukacita tidak pada keberangkatan Ramadhan. Kebahagiaan itulah yang dirasakan manusia setelah berhasil menyelesaikan tugas penting.

Perayaan puasa Idul Fitri merupakan pahala Allah bagi mereka yang berpuasa selama bulan suci shalat Idul Fitri menjadi alasan persatuan dan solidaritas umat Islam di seluruh dunia. Rasulullah SAW dan seluruh Imam merayakan Idul Fitri dan mengimbau seluruh umat Islam untuk melakukannya. Mereka menyuruh umat Islam untuk mengenakan pakaian yang baik, mengenakan parfum dan pergi ke masjid untuk membacakan shalat Idul Fitri. Hazoor (S.A.W.W) biasa keluar dari rumahnya pada hari Idul Fitri, membacakan Takbir untuk memuliakan Allah dengan suara keras. Dia menyarankan kita untuk bertukar salam Idul Fitri, saling mengunjungi, mengingat orang miskin dengan mengajak Fitrana sebelum shalat, mengunjungi mereka di rumah masing-masing dan memberi mereka hadiah jika memungkinkan.

Konsep Lebaran dalam Islam namun tidak terbatas pada pemborosan perayaan, pesta mewah, jabat tangan ramah dan pelukan. Orang-orang Muslim lebih kepada mengabdikan diri pada hari ini untuk menyembah Allah dan hendaknya berdoa di hadapannya untuk menyetujui perbuatan-perbuatan kejam mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Yang begitu pada hari ini, merupakan “pintu-pintu pengampunan-Nya terbuka pada hari ini dan berkat-berkat-Nya mengalir deras. Pada hari ini Allah memberikan kehormatan kepada orang-orang yang tak ada habisnya dan tidak ada ampunannya.

Nabi kudus kita telah menyarankan kita untuk merawat orang miskin secara khusus pada hari ini dan memasukkan mereka dalam perayaan kita. Tetapi kami tetap sibuk dalam mengevaluasi orang-orang dekat dan terkasih kami tetapi sangat jarang mengikuti saran dari HAZRAT MUHAMMAD (PBUH). Orang miskin adalah manusia seperti kita dan mereka juga memiliki keinginan mereka. Setidaknya kita harus memberi mereka kepentingan pada hari ini.

Hari perayaan bagi umat Muslim lainnya adalah idul ul azha yang biasa dikenal dengan “Bari Lebaran” itu adalah hari yang dirayakan untuk mengenang pengorbanan yang dilakukan oleh Hazrat Ibrahim dari putra tercinta mereka Hazrat Ismail sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT. Hari ini mengajarkan kita untuk mengorbankan apapun di jalan Allah hanya untuk mewajibkannya. Kami mengorbankan hewan seperti kambing, domba, unta dll untuk menyegarkan pengorbanan Hazrat Ibrahim. Pada hari ini juga, kita harus mengingat miskin dan mendistribusikan daging kepada mereka.

Untuk menyimpulkan, kita dapat mengatakan bahwa lebaran adalah murni hari perayaan. Tetapi juga mengajarkan kita begitu banyak pelajaran tentang toleransi, kesabaran, dan orang-orang yang penuh kasih di bawah pangkat kita. Singkatnya, Allah telah memberi kita hari untuk merayakan tetapi hanya perayaan yang akan selesai jika kita akan menambahkan semua orang di sekitar kita di dalamnya.

Previous article

Validasi Nomor Telepon dan Pemeriksaan Alamat

Next article

Tasawwuf: Jiwa Islam

Join the discussion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *